The Secret, Buku Sesat Yang Diikuti Banyak Orang

•August 12, 2008 • 4 Comments

Anda udah baca buku the secret? Atau nonton filmnya barangkali. Anda terpengaruh?

Ha. itu wajar

Adalah sifat-sifat manusia untuk mudah terpengaruh dengan hal yang menawarkan jalan pintas untuk meraih kebahagiaan.

Meminta segala sesuatu pada semesta? Walah, memangnya siapa pula semesta itu? Law of Attraction? Istilah apalagi ini? Istilah bikin-bikinan yang coba dijustifikasi dengan fisika kuantum dengan dasar pemikiran yang dangkal. Bawa-bawa fisika kuantum dengan pemahaman yang seujung kuku, menganggap diri menemukan sebuah rahasia besar alam semesta. Membuat praduga untuk makar terhadap Tuhan, memutuskan hubungan antara makhluk dengan khalik. Menghapus eksistensi Tuhan sebagai pencipta alam semesta.

Berhati-hatilah!

Buku ini menyesatkan! buku ini berisi ajaran sesat kaum pagan yang dikemas dengan pencitraan moral yang baik dan argumentasi yang menarik : BERPIKIR POSITIF!. Hohoho kedengerannya sungguh bijaksana. Namun benarkah tak ada maksud tersembunyi dibalik itu?

“Kendalikan pikiran Anda, maka Anda dapat menciptakan semesta Anda. Kendalikan pikiran Anda, maka Anda dapat mewujudkan semua yang Anda inginkan. Menciptakan masa depan Anda sendiri Menentukan takdir Anda sendiri. Sebab pikiran Anda adalah magnet terkuat di jagat raya. Dengan kekuatan pikiran, Anda dapat menarik segala sesuatu untuk mewujud menjadi kenyataan material yang anda inginkan. Sungguh menakjubkan bukan?…” Kira-kira begitu propaganda Rhonda Byrne dalam buku dan filmnya : The Secret (untuk seterusnya saya singkat TS)

Bohong!

Buku ini adalah musang berbulu domba. Ini adalah ajaran sesat! yang bersumber dari ordo mistis kuno kaum Rosicrucian, sebuah sekte kuno yang menggali dan meramu warisan kaum pagan. Perhatikan, simbolnya saja ditulis dengan tetesan darah. Tidakkah anda curiga akan hal ini? Ajaran ini adalah penyakit ribuan tahun. Musuh hampir semua agama. Mereka sejenis dengan aliran freemasory, scientologis, kaballah, theosophical, illuminati. Mereka adalah sekte rahasia yang tak muncul kepermukaan dengan bendera. Mereka sekte underground. Bergerak dengan aba-aba simbol-simbol yang menyusup kesegala lapisan masyarakat

Kenapa mereka musuh semua agama?

Jawabannya satu : ideologi mereka menolak eksistensi Tuhan sebagai pencipta alam. Mereka agak berbeda dengan penganut ateis murni, karna ateis murni hanya tak percaya Tuhan. Sedangkan mereka lebih jauh dari itu. Mereka hendak makar, terhadap Tuhan. Memposisikan diri serupa Tuhan. Dan melemparkan Tuhan sebagai sosok imajiner (sosok yang seolah ada namun sebetulnya tidak).

Rasa ingin tau membuat saya mencari banyak informasi. Buku TS yang tadinya hanya saya baca-baca sekilas, saya beli (belakangan saya nyesal karna ternyata ebooknya gampang didownload. Buku sampah kok dibeli…buang2 duit aja). Nonton filmnya. Googling diinternet tentang TS dan LoA. Sebagai pembanding saya juga baca buku Al quran, The Ultimatum Secret, yang berisi semacam apa ya, telaah fenomena TS dan LoA dalam ajaran Islam (terus terang saya kecewa dengan tulisan Astrid Darmawan dan Muhammad Hidayat yang masih terpedaya dengan buku TS. Mungkin lain kesempatan saya akan menulis kritik tentang buku karya Astrid D / M. Hidayat ini juga, yang ternyata setelah saya baca banyak mencampur adukan ajaran islam dengan hal-hal bid’ah serta filsuf barat yang sesat) .

Sebetulnya saya tak begitu tertarik membahas buku ini jika saja saya tak melihat suatu fenomena, bahwa begitu banyaknya saudara saya sesama muslim terpengaruh dan percaya apa yang dikatakan Rhonda Byrne dkk dalam buku ini. Saya tak akan membahas detil mengenai latar belakang, asal muasal kepercayaan yang dikenal sebagai new age atau “aliran jaman baru” ini. Jika barangkali tertarik, silahkan Anda cari tau sendiri ajaran yang kembali booming menjelang abad kesembilan belas ini. Adapun tujuan saya membuat artikel ini untuk mengingatkan pada saudara saya seaqidah agar jangan sampai terpedaya dengan teori busuk Ronda Byrne dkk, dalam TS.

Kenapa buku TS berbahaya terhadap aqidah islamiyah? Sebab ajaran ini memanipulasi kaidah sunatullah, membelokkannya dengan argumentasi sesat agar sesuai dengan keyakinan mereka. Selain itu mereka mengklaim tokoh-tokoh terkenal dunia seolah mempercayai TS. Untuk meyakinkan argumentasi mereka juga menyitir pendapat para tokoh tersebut lalu membelokkannya penafsirannya agar sesuai dengan konsep TS dan LoA.

Saya tidak sedang berpikiran sempit atau menyempitkan permasalahan. Saya yakin dengan membaca buku ini Anda tidak tergoda mempertanyakan eksistensi Allah swt. Bahkan bisa jadi Anda merasa semakin meyakini Allah. Namun yang perlu Anda waspadai adalah dasar anda berpikir. Sulit memang menyadari terkikisnya tauhid. Karna ini berada pada tingkat kesadaran akan tauhid rububiah yang berlanjut pada tauhid hakimiah (penetapan segala hukum, termasuk hukum alam adalah hak Allah semata). Namun secara sederhana dapat saya katakan : Jika Anda mempercayai TS maka aqidah Anda teracuni. Mengapa demikian? Sebab Anda tanpa sadar meyakini adanya law of attraction, hukum tarik menarik yang sesat dan tidak berdasar. Mengapa LoA saya katakan sesat.

1. LoA menyingkirkan Tuhan sebagai Pencipta alam

2. LoA hanyalah suatu komposisi sunatullah dan qudratullah yang disalahtafsirkan.

3. LoA bertentangan dengan banyak hukum alam.

LOA MENYINGKIRKAN TUHAN SEBAGAI PENCIPTA ALAM SEMESTA

Mari kita simak pendapat James Ray (pakar TS/LoA) tentang apa yang disebut Tuhan.

“Anda pergi ke fisikawan kuantum dan bertanya, “Apa yang menciptakan dunia?” Dan ia akan berkata, “energi”. Baiklah jelaskan energi itu. “Energi tidak pernah dapat diciptakan atau dihancurkan. Dulu, sekarang, maupun nanti; energi selalu ada, segala sesuatu yang pernah ada selalu ada. Energi bergerak ke dalam bentuk, melalui bentuk, dan keluar dari bentuk. Anda pergi ke seorang teolog dan bertanya, “apa yang menciptakan semesta?” dan ia akan berkata, “Tuhan”. Baiklah jelaskan tentang Tuhan. “Dulu, sekarang, maupun nanti, Tuhan selalu ada. Tidak pernah bisa diciptakan atau dihancurkan. Segala sesuatu yang pernah ada, dan akan selalu ada, selalu bergerak ke dalam bentuk, melalui bentuk, dan keluar melalui bentuk. Anda lihat ini adalah penjelasan yang sama dengan terminologi yang berbeda…”

Saya jawab : Tidak.

Tuhan tidak sama dengan energi (dengan terminologi dan kaidah apapun). Tuhan adalah Dzat yang berbeda dengan ciptaannya (mukhalafatuhu lil hawadits). Mari kita lihat dalilnya dalam al quran tentang sifat Allah :

… Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Syûra: 11)

Jika pengertian law attraction hanya terbatas pada bahwa setiap mahluk yang mempunyai kemiripan mengalami ketertarikan itu masuk akal (Ibnu Qayyim Al Jauziah juga berpendapat sama). Tapi menyakini bahwa gelombang pikiran dapat mengendalikan alam semesta (universe), hingga mewujud menjadi hal yang material, itu adalah doktrin sesat dan menyesatkan. Sebab sebagaimana kita tahu bahwa hanya Allah saja yang menciptakan alam ini, Allah yang menurunkan rezeki dan hujan, Allah yang memelihara dan mengatur seluruh alam, Allah yang menghidupkan dan mematikan.

yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (QS Al Furqaan ayat 2)

Energi, waktu, ruang itu mahluk Allah swt. Sesuatu yang Allah ciptakan pasti akan berakhir, kecuali Allah menghendaki lain. Kesimpulan energi dikatakan kekal, sejatinya kekekalannya itu berada dalam lingkup/bingkai alam semesta. Bukan dalam kaidah tak terbatas. Energi eksis karna ada ruang dan waktu sebagai pembentuk dimensi, sebab energi butuh ruang untuk ditempati dan waktu untuk bereaksi. Jadi energi ada dalam bingkai waktu. Jika ruang dan waktu saja tidak kekal, apalagi penghuninya. Jadi maksud dari “kekekalan energi” itu adalah bahwa energi tak akan lenyap (hanya berubah dari bentuksatu kebentuk lain), selama alam semesta ini ada. Jika alam semesta ini musnah, energi dengan sendirinya sirna.

Jadi membawa bawa teori fisika kuantum untuk menarik kesimpulan bahwa energi (dalam terminologi fisika) = tuhan (dalam terminologi teologi) itu bukan hanya salah kaprah namun amatlah tidak masuk akal. Bagaimanapun pada tatanan iman. Ada suatu batas ketika pengetahuan manusia (yang seperti air di ujung kuku) mandeg untuk mengetahui rahasia Tuhan yang luas tak terbatas.

APA YANG DIANGGAP LOA SEJATINYA HANYALAH SUATU KOMPOSISI SUNATULLAH DAN QUDRATULLAH YANG DISALAHTAFSIRKAN.

Jika kita membaca buku Alquran The Ultimate Secret (untuk selanjutnya saya singkat ATUS) yang ditulis Astrid Darmawan dan Muhammad Hidayat, maka kita dapatkan penjelasan bahwa fenomena LoA dengan bersandar pada surah Al Jatsiyah ayat 13 :

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.

Tampaknya Astrid / Hidayat keliru jika memahami ayat ini,

Makna menundukkan yang dimaksud ayat ini bukanlah berarti alam semesta dapat diperintah oleh manusia sekehendak hatinya. Namun makna “menundukan” dalam ayat ini adalah “menyediakan”

Oleh sebab itu Buya Hamka dalam tafsir Al Azhar menerjemahkan “wa syajaralakum…” adalah “dan disediakanNya untukmu” bukan “dan ditundukNya untukmu” sebagaimana terjemah resmi depag RI. Agaknya Buya ingin lebih menegaskan maksud dari ayat tersebut bukan hanya terjemah literluc.

Dengan demikian maksud ayat ini adalah Allah menyediakan semua yang dibumi dan dilangit untuk keperluan manusia. Agar manusia dapat hidup secara layak. Sedangkan sifat-sifat dari alam itu sendiri Allah yang menentukan, tidak dikuasakan kepada manusia. Oleh karenanya alam tak akan dapat berprilaku diluar iradat-Nya (sunatullah). Kecuali Allah menentukan lain (qudratullah). Dan pengecualian itupun bukanlah diluar sunatullah tapi merupakan bagian dari sunatullah bahwa kadang alam berlaku diluar prilaku normalnya atau anomali (atas perintah Allah).

Jika dibiarkan memilih tentulah alam tak sudi melayani kebutuhan manusia yang penuh dengan perbuatan dosa dan maksiat, sebagaimana bumi keberatan untuk diambil tanahnya dalam penciptaan Adam AS. Namun atas kehendak Allah alam tunduk dan patuh pada ketentuan Allah tanpa pernah membangkang sedikitpun jua.

Cobalah Anda bayangkan bagaimana kacaunya alam semesta ini jika prilaku alam (langit dan bumi) dikuasakan pada kehendak manusia sebagaimana pemahaman Astrid/Hidayat. Sebab lain orang, lain kehendak. Yang satu ingin turun hujan. Yang satu lagi sebaliknya. Yang lain lagi ingin turun salju. Yang satu ingin panas. Chaos bukan?

Oleh karena itu pembenaran teori LoA dengan membawa-bawa ayat 13 surah Al Jatsiyah adalah salah kaprah. Hal ini lebih terang lagi jika kita simak surat An Nahl ayat 12 :

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya),

Perhatikan “…dengan perintahNya”. Jadi bukan perintah manusia, atau energi pikiran manusia. Melainkan perintah Allah!

Jelaslah bahwa yang dimaksud “menundukkan” itu, alam ditundukkan prilakunya oleh Allah demi kepentingan manusia. Bukan berarti memberikan Allah kekuasaan pada manusia untuk memerintah alam semesta sekehendaknya. Sebagaimana kita takkan dapat menahan malam / siang untuk datang dan pergi semau kita. Apalagi memerintah alam semesta mewujudkan keinginan kita dengan kekuatan pikiran hingga mewujud menjadi materi sebagaimana yang Rhonda Byrne dkk yakini. Hal itu bukan hanya menentang hukum alam tapi juga tak masuk diakal (doesn’t make any sense!) alias tak dapat diterima dengan logika manapun.

Lalu bagaimanakah menjelaskan fenomena seperti yang dikatakan TS?

Dalam hadist Qudsi dinyatakan :

Sesungguhnya Allah berfirman : Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku dan Aku akan senantiasa menyertainya apabila berdoa kepadaku.

Jika hal ini yang menjadi sandaran keyakinan Anda dalam membaca fenomena mengapa apa yang Anda pikirkan, apa yang Anda inginkan terkabulkan. Mengapa hal-hal positif yang kita pikir dan harapkan terjadi pada kita, mewujud. Inilah yang sesuai dengan syariat. Namun jangan sekali-sekali berpikir bahwa pikiran Andalah yang mewujudkan keinginan Anda. Jangan sekali-sekali berpikir bahwa pikiran Andalah yang menarik semua hal mewujud : itu syirik!

Hadist qudsi ini bukan membenarkan rumusan LoA, sebagaimana yang dipahami Astrid / Hidayat. Namun hadist ini merupakan rahmat dan kasih sayang dari Allah kepada hambanya yang selalu menjaga hati, memelihara pikiran positif dan menjauhkan prasangka buruk. Allah mengajak hambanya untuk senantiasa berprasangka baik, karna banyak kebaikan didalamnya. Secara psikologis keyakinan akan sesuatu akan mendorong kita untuk mencapainya. Orang yang yakin akan sukses ketika berikhtiar tak akan mudah menyerah oleh kegagalan yang dialaminya. Hingga berbekal keyakinan itu dia akan berikhtiar sekuat tenaga. Dan sudah sunatullah, bahwa biasanya orang yang berusaha keras akan diberikan keberhasilan mencapai apa yang diinginkan, meskipun tidak selalu.

Perlu dipahami bahwa ada dua komposisi ketentuan dari Allah terhadap mahluknya. Satu melalui mekanisme proses yang biasa kita kenal dengan sunatullah atau hukum alam. Yang kedua tanpa proses, hal yang merupakan ketentuan Allah langsung tanpa melalui jalan yang disangka-sangka (qudratullah). Orang biasa menyebutnya kebetulan. Padahal sesungguhnya tidak ada kebetulan dalam hidup ini karna semua diatur Allah. Komposisi dari kedua jalan ini sesungguhnya seringkali kita temukan dalam kehidupan, hanya mungkin jarang kita menyadari.

TS MEMBANTAH MENGINGKARI HUKUM ALAM DAN LOGIKA AKADEMIS

Thomas Alfa Edison melakukan 19.000 kali percobaan sebelum menemukan bagaimana caranya membuat kawat yang dialiri listrik berpijar tanpa menjadi putus. Edison punya keyakinan pada teorinya. Dan dia berupaya mewujudkan keyakinannya dengan jumlah percobaan yang membuat ahli manapun menyerah. Seandainya Edison menganut paham the secret maka barangkali kita takkan akan menikmati lampu pijar hingga kini. Sebab TS hanya mengajarkan pada kekuatan keinginan dan mimpi, tanpa perlu tau upaya mewujudkannya. Mari kita tengok apa yang dikatakan buku TS :

“Anda tidak perlu tahu bagaimana akan terjadinya. Anda tidak perlu tahu bagaimana semesta akan menyusun ulang dirinya” (Joe Vitale)

Penjelasan buku TS :

“Bagaimana itu akan terjadi? Bagaimana semesta akan mendatangkannya bagi Anda? Bukan masalah atau pekerjaan Anda. Biarkan semesta melakukannya bagi Anda. Jika Anda berusaha mengetahui bagaimana itu akan terjadi—Anda memancarkan frekwensi kurangnya keyakinan—Anda tidak percaya bahwa Anda sudah memilikinya. Anda pikir Anda sendiri yang harus melakukannya dan Anda tidak percaya bahwa semesta melakukannya untuk Anda. Caranya bukanlah bagian Anda dalam proses penciptaan ini”

Lihatlah bagaimana teori TS menyuruh kita untuk tidak memikirkan cara mewujudkan keinginan (karna dianggap akan menghasilkan energi kekurangpercayaan). Logika ini mengingkari hukum alam. Sesuatu itu tidak mewujud begitu saja jatuh dari langit. Tuhan menyuruh kita berikhtiar untuk mewujudkannya. Untuk itulah kita memerlukan ilmu pengetahuan sebagai sarana mewujudkannya. Sedangkan ilmu sendiri mengisyaratkan kita untuk bertindak secara terencana dan sitematis. Jadi teori TS dalam hal ini juga membantah logika akademis!

“Penciptaan selalu terjadi. Setiap kali seseorang mempunyai pikiran, atau cara berpikir kronis yang panjang, ia sedang berada di dalam proses penciptaan. Sesuatu akan mewujud dari pikiran-pikirannya” (Michael Bernard Beckwith)

Kalimat Bernard sang paka TS tersebut kalau didengar sekilas tampak sederhana dan tidak berbahaya. Tapi jika dirunut sampai ke akar dari hakikat apa implikasi pernyataan ini sesungguhnya? Menyingkirkan Tuhan. Karena pikiranlah yang berperan menciptakan realita. Diri Anda, hidup Anda, lingkungan anda. Bahkan semesta. Jadi dimanakah Tuhan? Semestalah tuhan. Karna semesta datang dari pikiran anda, maka Anda-lah tuhan. Atau tepatnya tidak ada tuhan karna Anda sendiri dikatakannya hanya rangkuman energi kosmis yang berinteraksi dan bagian dari alam semesta. Itulah hakikat pendapat Bernard. Na’udzubillah min dzalik. Jangan sampai kita terbawa pola pikir ini.

Mari kita dengar pendapat DR. Fred Alan Wolf (yang katanya pakar fisika kuantum)

“Dalam fisika kuantum dikatakan, bahwa Anda tidak mungkin memiliki sebuah semesta yang tidak dirasuki akal, dan bahwa akal membentuk segala sesuatu yang ada”

Hahaha.

Belum pernah saya dengar kebodohan paradoksal macam begini. Entah atas dasar teori fisika kuantum mana kesimpulan ini ditarik DR Fred Alan Wolf. Memangnya manusia yang membentuk lingkungannya sendiri? Yang ada manusia berinteraksi dan dipengaruhi lingkungan. Memangnya manusia yang menciptakan semestanya sendiri? Padahal manusia itu ada sesudah semesta itu tercipta. Lantas mendasari teori ini darimana datangnya alam semesta. Sedangkan manusianya belum ada. Teori kuantum model mana yang bisa berkesimpulan setolol itu, Mr. Fred?

(tidak usah mendebat pendapat ini. karna “kenyataan” sudah membantahnya)

TS/LOA MEMBANTAH LOGIKA MEDIS!

Apa fungsi rasa sakit?

Rasa sakit diberikan Allah pada tubuh manusia adalah karunia agar manusia bersyukur pada kehidupan. Selain itu, dari sudut pandang medik rasa sakit adalah warning bahwa ada yang tidak beres pada tubuh. Jadi jika Anda merasa sakit, pasti ada yang tidak beres pada tubuh Anda. Anda harus ke berobat. Pada kondisi mental tertentu kadang manusia mengabaikan rasa sakit. Kadang seseorang bahkan tidak percaya dirinya sakit. Karna selama ini dia berpikir dirinya sehat-sehat saja. Jadi bagaimana bisa orang jatuh sakit? Sementara orang tersebut tidak berpikir dirinya akan sakit. Nah dari situ saja teori TS sudah terbantah.

Sikap Mental positif memang diperlukan untuk menjaga kesehatan. Sebab bagaimanapun kerja organ-organ tubuh dipengaruhi oleh faktor emosi. Emosi adalah sebagian dari pada sistem unik yang turut mengontrol sistem faal tubuh manusia. Emosi merupakan salah satu faktor dari rangkaian sistem biologis. Antara emosi dan fisik mempunyai kaitan erat, yang jika terjadi ganggungan keseimbangan yang satu maka yang lain juga terpengaruh. Jadi tidaklah benar bahwa emosi penguasa segala sesuatu. Emosi hanyalah bagian dari sistem bukan penguasa.

Sebenarnya banyak sekali contoh hal dan pendapat (yang dipaparkan oleh pakar TS) yang tidak logis dan bertentangan dengan hukum alam. Namun tampaknya orang yang terkesima dengan buku TS telah menutup mata dan logika mereka terhadap kenyataan. Mereka lebih memilih percaya pada omong kosong ini (sayang sekali). Terbukti ketika ada orang yang mengkritik TS langsung dihujat habis-habisan.

Saya pikir kita sebagai pembaca harus kritis. Jangan menelan mentah-mentah apa yang kita baca. Sebab buku itu seperti makanan. Jika makanan adalah sumber nutrisi tubuh, maka buku adalah makanan pikiran. Nutrisi bagi jiwa. Ada makanan menyehatkan. Ada makanan jungkies. Ada makanan beracun. Namun yang jelas, tak ada makanan yang tak mengandung toksin.

Demikian pula dengan buku. Ada buku yang lebih banyak manfaat daripada sampahnya. Ada buku sampah. Adapula buku beracun. Namun yang jelas tak ada buku yang tak mengandung racun. Nah bila organ-organ tubuh dan antibodi berfungsi memilah dan membunuh bibit penyakit maka tugas kita selaku pembaca adalah menggunakan nalar dan ilmu yang kita miliki untuk menyortir sebisa mungkin agar racun itu jangan sampai merembes ke otak lalu meracuni pola pikir kita apalagi iman kita.

catatan :

Karna artikel ini berhubungan dengan aqidah maka saya tulis dengan hatihati dan upaya maksimal untuk menghindari kesalahan, baik kesalahan saya sendiri maupun kesalahan penafsiran pembaca maupun. Saya manusia dengan sedikit ilmu, tentu banyak kesalahan. Jika ada yang tidak sesuai mari kita diskusikan. Bacalah dengan teliti. (karangs@ti, 12082008)

last drop falls

•July 24, 2008 • Leave a Comment

hmn lagi coba nyisipin lagu sonata arctica nih : last drop falls

rencananya sih mau buat tutorial photoshop kalo ini lancar. tapi kok nggak ada fasilitas kutak-katik dimensi ya. sama persis ama yang di youtube

PANGGIL GUE GEGE AJA! …. (KABAR BUAT PENGGEMAR GOLA GONG)

•May 10, 2008 • 1 Comment

Ketika lahir, nama yang dipilih bapaknya cukup bagus : Heri Hendrayana Haris. Sunda abis kedengarannya sih. Tapi saya yakin, nama itu bisa diterima ditelinga siapapun. Namun, namanya pengarang dipikirnya lebih enak pake nama pena dong, ya? Maka setiap akhir tulisannya dicantumkannyalah : Gola Gong0). Entah dari mana dan dengan alasan apa nama pena itu dipilihnya. Sumpah kaya raya, saya tak tau. Tapi kedengerannya keren juga dan maskulin buat seorang penulis cowok. Maka dengan bangga dia bilang pada siapa saja “Panggil gue Gege” (mungkin maksudnya GG, singkatan nama penanya).

“Manusia ini langka” Begitu kata Ri, teman saya, yang saya ajak ngobrol sore itu sambil duduk di emperan toko kayak pengemis, sehabis makan mie ayam. Yah kami memang sering nongkrong dengan gaya menyedihkan begitu. “Hanya sedikit penulis kita yang seperti dia. Petualang yang penulis” Sambung Ri.

Terobsesi oleh Max Havelaar1). Dia pernah berpetualang dari tanah kelahirannya hingga Irian seorang diri. Dan menjelajahi 8 negara Asia2) selama 9 bulan hanya dengan sepeda pancal yang dia panggil si Master. Mengangkat ransel dan go. “Hari baru adalah hari yang lain. Karena hari takkan sama dua kali. Maka biarkan kuselalu terjaga di bawah langit yang sama namun tempat yang berbeda” begitulah mungkin apa yang ada di hatinya. Maka diapun rela kesepian di pulau Atol. Menemani nelayan menelikung ikan dengan perahu motor tempelnya . Keracunan, dan hampir mati digigit binatang laut ditepi pantai. Duduk termangu menulis diarinya di batang kayu lapuk di pulau Seram.

Demi mencapai ambisinya menjadi penulis petualang, dia hengkang dari fakultas sastra Unpad. Terlalu teoritis. Itulah pendapatnya. “Aku ingin menulis dari sesuatu yang benar-benar nyata. Aku ingin tau sesuatu yang ada di jalanan” Barangkali itu yang ada di benaknya. “Aku tak ingin hanya menjadi pengkhayal yang memanjangkan imajinasi tanpa menyentuh akar kenyataan. Aku tak ingin menulis cerita tentang mobil mewah dan hidup yang berkilau bagai lampu kristal” Mungkin itu argumen yang tak diucapkannya.

Freddy Mercury bilang : The show must go on. 3)

Cita-cita bukan sesuatu yang hanya diangankan. Tapi cita-cita adalah sesuatu yang harus diupayakan. Jika tidak, cita-cita hanyalah seongok mimpi para penidur. Semua orang bisa bermimpi. Tapi hanya sedikit orang yang mampu membungkus impian lalu menggelarnya di panggung kenyataan. Cita-cita adalah sesuatu yang harus diwujudkan bukan hanya diomongkan. Seperti kata Steve Balmer : Get shit done! 4)

Aku manusia pergi!5)

Maka berangkatlah dia sebagai seorang backpaker. Berkelana dan kesepian. Dia membiayai perjalanannya dengan menulis. Serial Balada Si Roy yang pernah dimuat bersambung di majalah Hai adalah buah penanya—karya yang membuat banyak orang terobsesi menjadi petualang, selain banyak artikel jurnalistik yang dikirimnya ke berbagai koran dan majalah. Dia adalah wartawan tanpa surat kabar6). Setelah puas melahap bumi nusantara. Diapun menjajal bumi asing. Delapan negara Asia berhasil dipijaknya—yang dituturkan secara berseri di majalah Anita Cemerlang7).

Padahal. Padahal tanggannya hanya satu, teman.

Jadi,

masih adakah yang hendak meragukan nyali lelaki yang satu ini. Atau masih adakah alasan yang meremehkan mereka yang cacat untuk mewujudkan impian. Bahkan untuk orang normal pun, dalam budaya kita masih terlalu sedikit yang menganggap petualangan ini sebagai sebuah prestasi yang layak kita acungkan jempol. Kebanyakan orang menganggap hal ini sekedar kegilaan belaka.

“Waktu aku lahir, ari-ariku tidak ditanam. Tapi orangtuaku membuangnya ke sungai” Paparnya. Barangkali tak ada rasio yang dapat menghubungkan antara kegemarannya berpetualang dengan riwayat ari-arinya itu. Namun dengan bangga dia menceritakan masa kecilnya itu. Seolah sang ari-arinya itulah yang menuntun kakinya menjejaki pelosok demi pelosok nusantara. Menemaninya memijakkan tapak Inci demi inci bumi Allah.

Use your illusion! Kata Axl Rose8). Seorang seniman selalu menggunakan ilusi dan imajinasi untuk membangun semangat dalam dirinya. Barangkali begitu seharusnya saya berpikir tentang dirinya. Bukankah hidup lebih kaya dengan imajinasi? Dan lebih berwarna dengan perumpamaan? Baiklah-baiklah anggap saja begitu.

Ri juga setuju.

GG adalah salah satu pengarang pavorit saya. Paling tidak waktu jamannya ada empat orang penulis lokal yang saya selalu tunggu cerita-ceritanya di majalah Hai. Pertama adalah serial Anak-Anak Mama Alin-nya Bubin Lantang. Kedua adalah Legenda Hanoi-nya Y. Gala. Ketiga adalah serial Tom-nya Rohmat Rojadi. Keempat ya Balada Si Roy-nya Gola Gong.

Pada fase kehidupan berikutnya, sang petualang memilih rumah dengan seorang perempuan yang lama menantinya diambang pintu. Mereka membangun bahtera. Menyiapkan petualangan baru dalam format yang berbeda. Sebut saja kekasihnya itu : Tias Tatanka. Dia dan perempuan yang secantik namanya itu, menikah. Mereka telah dikaruniai anak yang sehat wal afiat. Anak sulungnya menuruti jejaknya menjadi penulis diusia yang sangat muda.

Istrinya Tias Tatanka juga seorang penulis. Mereka mendirikan Rumah Dunia dibelakang rumahnya, di Serang, Banten. Suatu impian yang lahir dari jiwanya. Taman bacaan dan rumah bagi mereka yang ingin hobi membaca dan menjadi penulis. Inilah petualangan baru dengan format yang berbeda itu. Sungguh beruntung serang mempunyai putra seperti dirinya.

Namun teman.

Sungguh saya sedih menyampaikan menyampaikan kabar buruk ini. Beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi website www.rumahdunia.net . Saya membaca berita dia masuk rumah sakit. Tulang belakangnya hingga ke leher mengalami pengapuran. Sungguh sedih mendengarnya. Orang seperti dia John Wood-nya Indonesia!9), mari kita doakan supaya GG cepat diberi kesembuhan…

Note.

0) di websitenya dia bilang hasil kutak-kutik dari kata goal gong. Goal maksudnya cerpennya itu berhasil dimuat. Gong maksudnya karyanya bergema (terkenal kali).

1)Max Havelaar adalah buku karya Multatuli atau DR. Deuwis Dekker. Orang Belanda yang menentang politik tanam paksa di Indonesia

2)Malaysia, Thailand, Laos, India, Bangladesh, Myanmar, Nepal dan Pakistan.

3)The show must go on adalah judul lagu Queen yang dinyanyikan Freddy Mercuri sang vokalis yang mati karna HIV

4)Steve Balmer adalah tangan kanan Bill Gates di Microsoft Corp. yang membawahi para CEO. Adalah gayanya untuk memerintahkan suatu ide untuk diwujudkan dengan mengatakan : Get Shit Done!

5)Kalimat tersebut saya petik dari serial balada si Roy berjudul : Tolong!

6)Wartawan lepas.

7)Catatan perjalanannya ini akhirnya dibukukan dengan judul Perjalanan Asia diterbitkan oleh Puspa Swara sebagai Seri Wisata Rakyat.

8)Vokalis the most dangerous band in the world : Guns ‘N Roses

9)mantan CEO Microsoft cabang Asia Tenggara yang cabut, buat mendirikan “room to read” organisasi nirlaba yang mendirikan sekolah plus perpustakaan bagi negara-negara tak mampu. Sampai saat ini John berhasil mendirikan lebih dari 5000 sekolah plus perpustakaan, serta mengembangkan “room to grow” program untuk beasiswa ribuan anak tak mampu.

karangs@ti

hometooffice, 23-24042008

GELANDANGAN DUNIA (ode buat bubin lantanG)

•May 10, 2008 • 14 Comments

Hei Dunia

Apakabar?!

Awal Februari 2006—setelah kelar cuti, mengambil master of sciencenya dari Rijksuniversiteit Groningen, Belanda dan studi ekonomi di Uppsala Universitet, Swedia—dia kembali ke Indonesia. Pimpinan langsung menugasinya ke Batam dengan alasan ekspansi peliputan. Namun dia tau, itu hanya sebuah pengusiran buat dirinya. Buah dari ulah ‘nakalnya’ dulu menggebuki para koruptor BLBI dengan berita ekonomi yang dia tulis. Banyak yang gerah tentunya. Barangkali pimpinannya di Kompas tak mau berurusan dengan permainan bejad koruptor yang banyak duit dan chanel, yang mungkin bisa mengganggu stabilitas perusahaan koran beroplah terbesar di Indonesia itu.

Dia menawar untuk diberi tempo 3 bulan karna ada urusan pribadi yang betul-betul mendesak. Namun ditolak. Pimpinannya bersikeras dia harus segera angkat kaki dari Jakarta, berangkat ke Batam saat itu juga.

Jika melihat wajahnya yang persegi. Dengan tonjolan tulang pipi, yang melukiskan keras wataknya. Barangkali sukar baginya untuk mengalah atau istilahnya berkompromi. Sebab dengan loyalitas yang dia berikan bertahun-tahun. Semua itu hanya berbuah hal yang menyakitkan : Pengusiran!. Maka tak ada jalan, pikirnya : I’m out! Itulah keputusannya. Bulat! Tak bisa ditawar. Tak bisa ditarik. Tak bisa diganggu gugat.

Teman-temannya mengira dia keluar dengan pesangon yang besar, sebagaimana wartawan lain yang mengundurkan diri karna suatu hal dari tempatnya itu. Padahal, dia resign dari sana tanpa pesangon sepeser pun, setelah bertahun-tahun bekerja. For nine the f****ng years, I’m glad I quit” katanya satir “Jurnalisme for sale!” Tukasnya, begitulah kira-kira akhirnya dia berkesimpulan.

Tak ada yang menarik lagi buat lajang 35 tahun itu buat tidur pulas di bumi Indonesia, negeri yang indah dan kaya, namun penuh kebobrokan dan kemunafikan. Dimana yang berkuasa hanyalah duit dan kekuasaan. Dimana sedikit kelompok orang bermegah-megah dengan gedong-gedong dan mobil-mobil mengkilap dari penggelapan utang LN. Sementara berjuta kepala hidup dalam kefakiran hingga mati kelaparan, dibebani bertumpuk utang negara yang tak pernah mereka nikmati.

Suck!

Kini lelaki yang hobi traveling dan fotography ini lebih memilih hidup nomaden. Mengembara dari satu tempat, ke tempat lainnya di pojok-pojok dunia. Dulu dia blusukan di ujung-ujung bumi sebagai wartawan. Berburu berita. Rusia, Korea, Belanda, Roma, Italia, dan berbagai tempat lain di penjuru dunia, hingga Helsinki, tempatnya si Rosa Liksom sastrawan generasi funk Finlandia yang dingin, pernah dipijaknya (sayang saya nggak tau. Coba tau saya pingin titip pesen ke Rosa supaya maen-maen ke Indonesia hehehe…).

Sekarang dia sedang menikmati hidupnya sebagai gelandangan. Melakukan petualangan absurd dari tempat ke tempat. Menjadi manusia nomaden abad 21. Menjelajah pelosok bumi sebagai pengembara. Selepas ngerjain proyek riset dari Bank of America, dia pindah dari Manhanttan yang gemerlap ke Brooklyn yang sepi, dari unit apartemen tipe studio di wilayah Chelsea itu ke apartemen tua dua kamar di Avenue H yang berada persis di tengah-tengah komunitas Yahudi dan Pakistan. Setelah itu hidupnya terus berpindah pindah. Berbagai pekerjaan kasar pun dilakoninya. Dia bilang barangkali dia masterofsience yang tukang cuci. Kata temannya, mungkin the frustrated-insecure-neurotic-emotional-andthemost stubborn ini mo jadi Johnnie Walker from Indonesia.

Hahaha.

Jika Anda googling satu ato satu setengah taon yang lalu, nyari informasi pribadi tentang dia. Mungkin lebih susah daripada nyari jarum ditumpukan jerami. Dia seperti menutup seluruh akses kehidupan pribadinya. Termasuk masa lalunya ketika masih jadi penulis fiksi remaja. Paling yang bisa disimak hanyalah liputan ekonominya di kompas.

Matanya sipit. Rautnya chines. Nggak heran, salah seorang temannya dari Indonesia yang ketemu waktu kuliah di Gronigen, pertama nyangka dia dari negeri China. Eh taunya dari bumi Tanjungkarang, nusantara. Satria nusantara dong. Hehehe… Mungkin karna hobi masak, pria satu ini begitu care ama dapur. Temennya bilang, sewaktu kuliah di Gronigen dulu. Nggak ada orang yang berani ngotor-ngotorin dapur. Karena akan segera muncul secarik kertas bertuliskan, “Your Mother is not here. Clean your own belongings…” Nggak China, nggak Vietnam, Nggak Bule, keder semua sama dia

Tunggu.

Tunggu.

Tunggu.

Emang, siapa sih yang sedang lo omongin panjang kali lebar, ampe jeriji tangan lu pada keriting, Rang?

Kalo saya bilang Ferry Irwanto mantan wartawan ekonomi Kompas. Pasti akan banyak kerut dijidat pembaca. Tapi kalo saya sebut : bubin lantanG. Nah-nah-nah, yang dulu melewatin masa remajanya pernah melototin Hai jaman taon 90-an pasti bilang : “Oh si bubin tengil itu…! Yang bikin Anak-anak Mama Alin… Gue kenal bro! Gue kenal, bajingan, itu pengarang pavorit gue!”

“Jadi si bubin yang lo omongin?! Masih hidup dia?”

Husss! Nggak sopan!!!

HAHAHA…

Dasar bubin!

Sok misterius!

Bayangkan setelah bertahun-tahun mengagumi, saya baru tau namanya baru-baru ini. Bisa jadi namanya sering sering saya lihat di ujung artikel warta ekonomi. Tapi siapa sangka itu si bubin lantanG dari masa remaja saya. Lahir 27 Mei 1972 di Tanjungkarang, Lampung. Bisalah kita memanggilnya om Ferry atau om bubin terhadap pribadi unik ini.

“Itu karya-karya onani yang membuat saya ingin menenggelamkan kepala dalam krah baju setiap kali mengingat kenaifan masa muda” Kira-kira begitu inti pengakuan dia dalam blognya.

Bisa jadi seperti kata si bubin sendiri, bahwa karya-karyanya itu memang naif. Tetapi tak dapat dipungkiri, paling tidak cerita-cerita si bubin banyak mewakili identitas remaja pada jamannya. remaja yang terpinggirkan. Remaja yang memberontak. Remaja yang bukan anak mami yang manja. Seorang remaja yang berusaha kritis dan bertahan dengan idealisme moral yang kadang saling berkontradiksi. Mungkin dengan kacamata kita sekarang, kita akan tersenyum atau sedikit tertawa satir membacanya. Tapi begitukah keadaan yang terjadi dulu? Bagaimanapun kisah-kisah rekaan si bubin ini memberi warna di benak remaja temponya dalam memandang dunia mereka yang muda. Jiwa mereka yang hijau, belum teruji.

Bolehlah dianggap karya Gola Gong dan bubin ini adalah penyeimbang yang berdiri bersebrangan dengan karya Hilman dan Zara Zettira cs yang menceritakan kehidupan anak orang kaya. Karya GG dan bubin (walau tak sealiran) boleh dibilang berdiri dikutub sama dan berlawanan dengan genre yang diusung Hilman dan Zara Zettira ZR cs. Namun demikian apapun alirannya, jika dibandingkan teenlit sekarang. Karya GG, bubin,  Hilman, Zara dkk jauh lebih berkonsep dibanding teenlit sekarang yang hadirnya seperti sinetron. Hanya rentetan peristiwa tanpa konsep moral yang jelas. Jadi jangan bandingkan karya si bubin dengan teenlit sekarang. Jauh. Jauh ampe nyebur ke laut kali.

Balik ke bubin.

Suatu ketika ada beberapa orang temannya yang bertanya, kenapa dia tak mulai membuat fiksi lagi. Tapi dia bilang, fiksi itu masa lalu. Dia tak ingin mengungkit-ungkitnya lagi. Namun tak kenal lelah seorang teman dan adiknya membujuknya untuk tampil lagi. “Banyak penggemarmu yang rindu karyamu, bung!” Bujuk mereka. “Kalau tidak percaya coba kau tengok saja di internet!” Barangkali begitu provokasi mereka. Maka iseng-iseng dia melakukan googling.

Jreng!

Ternyata mereka tidak berdusta. Memang lumayan banyak yang membicarakan karyanya dulu. Mereka rata-rata menyatakan kangen. Bahkan ada seorang blogger yang membuat cerpen terinspirasi dari karyanya : Serial Anak-Anak Mama Alin. Cerpen tersebut berkisah tentang seorang anak yang mempunyai ibu yang terobsesi dengan serial Anak-anak Mama Alin yang ditulisnya. Dian Bara nama sang anak, nama yang diambil dari satu dari tiga kembar anak-anak Mama Alin rekaannya. Alkisah ibu sang anak. dulu penggemar serial legendaris itu. Sang ibu mengkoleksi semua novel-novelnya. Namun suatu ketika terjadi musibah kebakaran yang menimpa rumah mereka. Semua novel koleksi itu ikut musnah dilahap api. Sang ibu berupaya mendapatkan kembali novel kesayangannya itu. Namun sayang, tak ada lagi toko buku yang menjualnya, karna novel tersebut tak dicetak ulang. Setelah mencari tak juga ketemu, akhirnya dia mendengar kabar ada yang menjual novel-novel tersebut disebuah kota. Maka berangkatlah sang ibu ke kota tersebut. Namun sayang sang ibu kecelakaan dan meninggal.

Baiklah : I’ll be back!

Atas usul daripada yang mana sebaiknya saja teman-temannya, dia pun bersedia dibuatkan sebuah blog di wordpress (http://bubinlantang.wordpress.com), sebagai media komunikasi resmi. Namun karna hidupnya nomaden dan koneksi internet nggak akan mudah didapat, maka blog itu nggak akan sering dia isi. Selain karna dia nggak suka menulis dalam bentuk blog, karna dia bilang dia lebih suka dalam bentuk gambar? (nyambung nggak). Maksudnya dia kagak seneng nulis blog, itu aja. Tapi dia senang fotography, dia sering memajang karya-karya jepretannya itu di webshot.

Sampai dengan kemarin alamat sementaranya di Seattle, namun hari ini dia bilang di Newyork. Wah-wah-wah. Keren-keren. Going terus, Bos! Buset. Katanya benci Amerika, Om? Tapi hidup memang sukar diterka. Kemana arah angin akan bertiup, ya!

O. iya kabar-kabarnya. Dia udah ngerampungin sebuah novel. Lagi sedang nyari penerbit. Rupanya sudah siap lagi terjun ke fiksi, Bin? Semoga sense nulis fiksi kamu masih setajem dulu (bahkan lebih).

Buat yang belom kenal bubin lantanG dan karyanya. Nih saya kasih info tentang dia dan karya fiksinya :

1. Emak Bilang Kami Tidak Miskin!

2. Serial Anak-Anak Mama Alin yang dibukukan jadi 4 buku (potret potret, tentang tentang, nafas nafas, jejak jejak)

3. Bila (Novel yang ditulis duet bareng Dian Bara. Ternyata Dian Bara itu diambil dari nama temennya hahaha…)

3. Cerbung berjudul Kami

Entah mengapa si bubin seneng banget ama tragedi. Hampir rata-rata cerita yang dibuat memiliki tragedi yang mirip diujung ceritanya. Kelainan jiwa kali tuh si om….

Tragedi apa sih?

Buat yang belom baca dan penasaran. Baca aja tuh yang saya sebutin diatas…hehehe
karangs@ti
at kemanggisan,05052008

In The Miso Soup

•December 20, 2007 • Leave a Comment

Di pojok Jakarta.

Di sudut mall.

Di sebuah toko buku.

Ketika itu. Jam itu. Menit itu. Detik itu. Terselip diantara orang-orang yang tidakpenting-kurangpenting-danpenting dalam kehidupannya. Dalam garis kemauan yang menjadi derik sensorik. Lalu gerak motorik. Kemudian takdir. Hadirlah dia di sana dalam setting warna sebuah peristiwa.

Dia dan temannya baru saja keluar dari studio dua sebuah twentyone yang memutar film yang membosankan. Film baru bergulir setengah jam ketika temannya mengatakan tiada lagi yang menarik dalam ruang penuh deretan kursi itu. Tawa-tawa penonton lain tak menular pada mereka berdua.

Film itu berisi wajah-wajah bodoh. Tokoh-tokoh idiot. Dialog-dialog dangkal. Jalan cerita yang kabur.

Film itu diomongi dari mulut ke mulut hingga seolah sekelas film titanic atau film yang akan mendapatkan piala oscar. Temannya berharap ada sedikit saja kebenaran dalam omong kosong itu. Tapi baginya memprediksi hal ini lebih mudah daripada menebak sisi mana yang akan muncul dari permainan lempar koin.

Sinema negeriku yang tercinta, bagaimana kudapat belajar mencintaimu, jika kau sendiri tak tau bagaimana seharusnya mencintai dirimu. Kau adalah bayi yang baru lahir kembali. Tak semestinya kau berusaha berlari jika belulangmu hanya kuat untuk merangkak. Kau hanya akan membuat ibumu tertawa sekali untuk kemudian bersedih selamanya. Tulangmu akan bengkok. Lalu jalanmu akan terseok. Orang diluar rumah menatapmu iba. Dan jaman akan meninggalkanmu. Peradaban akan menggilasmu. Lalu kau menjadi luka sejarah.

Barangkali iklan gombal yang membuat penonton itu bisa menikmati adegan konyol yang sama sekali tak lucu itu. Dan menarik ujung saraf tawa mereka semua—kecuali dia dan temannya. Provokasi kadang lebih tajam daripada perintah. Hitler bilang kebohongan yang didengungkan terus-menerus akan menjadi kebenaran. Jaman sekarang propaganda sudah bermalih rupa menjadi iklan. Serta utopia yang menyamar dalam bentuk opini yang ditulis oleh orang yang mencitrakan dirinya sebagai pakar.

“Tak perlu banyak mendengungkan sesuatu pada orang bodoh. Sebab tak susah membuat orang bodoh tertawa. Yang sulit adalah membuat mereka berpikir” Begitu kata gadis yang biasa dia panggil Ri.

Terkadang Ri memang ketus. Tapi pendapatnya sulit ditangkal. Ri cerdas. Sulit membodohi gadis cerdas seperti Ri. Ri memang ceplas-ceplos, namun hanya kepadanya. Tidak kepada orang lain. Kepada orang lain Ri amat menjaga bahasanya. Dia pernah menanyakan hal ini pada Iman Jaya. Apakah sikap semacam itu termasuk hipokrit.

“Tidak” Kata Iman Jaya. “Menjaga perasaan orang adalah tindakan luhur. Tidak semua orang mampu melakukannya. Apalagi untuk pribadi ekspresif seperti Ri. Namun ada kalanya kau membutuhkan seseorang untuk meneriakkan perasaanmu sejujurnya agar kau bisa tetap seimbang, tak jadi sinting. Dan ini tidak bisa dilakukan pada sembarang orang”

Dia pikir Iman Jaya benar juga. Jika orang seperti Ri disebut hipokrit. Bagaimana seharusnya hidup dengan benar tanpa merasa tertekan. Ri itu lembut dan peka. Bagaimana tega dia mengatakan “Ri. kau hipokrit!”

“Jangan kau minta mereka untuk berpikir. Jika mereka bersedia melakukannya untukmu. Sudah sejak lama mereka jadi pintar oleh kemauan sendiri” Katanya menasihati Ri. “Mereka bodoh bukan karena ber-IQ jongkok. Mereka bodoh karena mereka tak ingin menjadi pintar. Menjadi pintar itu tak penting di negeri ini tau. Yang penting adalah menjadi licik”

“Hei. Kenapa kau jadi sinis” Tanya Ri.

“Aku?”

“Tidak sadar yah?” Gadis berwajah oriental itu memamerkan senyumnya. Giginya yang gingsul bersusun diantara taringnya yang panjang. Barisan gigi yang unik. Dekik samar di kedua ranum pipi. Mata yang nyaris serupa sepasang lengkungan. Seolah ada dua alis kembar yang berkait di sana. Ekspresi itu indah. Keindahan yang sulit diterjemahkan kepalanya. Sudahlah, keindahan itu untuk dinikmati. Bukan dipikirkan.

Dia bisa saja seratus tahun ditempat membosankan itu. Asal bersama Ri. Karena Ri bukanlah kebosanan. Ri adalah hiburan. Tapi Ri tak pernah berpikir menghabiskan barang dua jam untuk sebuah kesia-siaan. Apalagi seratus tahun. Itu sebabnya Ri memilih mengajaknya keluar. Sepertinya Ri telah kehabisan oksigen ditengah dingin yang menyangkut sampai ke tulang.

***

Kini lelaki itu berdiri disitu.

Ri mungkin terselip di rak yang berbeda.

Tempat itu salah satu dari sekian banyak tempat yang telah mereka kunjungi. Dia dan Ri tak pernah bosan untuk datang ke sana. Ada kegairahan tiap kali melihat jejeran buku-buku. Geliat mistis dalam dirinya. Mungkin juga Ri. Mungkin itu yang menyebabkan dia bisa akrab dengan Ri. Buku-buku itu yang bersekongkol mempertemukan nasib mereka.

“Di sana” tempat mereka membuang kebosanan. “Di sana” tempat dia berlari. Disana tempat dia menyendiri. “Disana” itu banyak, bukan ditempat itu saja. “Disana” menurutnya adalah dimana saja ada lautan buku-buku.

Perempuan itu mempunyai sepasang mata yang indah. Bola mata yang bening seperti bayi yang baru keluar dari rahim ibu. Barangkali dia tak banyak menyadari hal itu. Tatap matanya yang indah. Berkilau bagai kristal. Orang seringkali menyangkanya memakai softlens. Tapi bagaimana ia harus mengingkari anggapan dalam kepala orang-orang. Biarlah, yang penting seseorang yang harus percaya padanya mempercayainya.

Dipinggir mata itu terekat barisan bulu lentik alami. Dipayungi lengkung alis yang tak tebal. Hidungnya sedang saja. Pipinya seranum kulit apel. Sedikit merona bagai orang kedinginan. Jadi dia tidak susah-susah memberi perona. Rambutnya lurus sebahu, hitam kecoklatan. Seperti dicat dengan selang-seling warna redup. Membingkai wajahnya yang oval. Garis wajahnya lembut. Sore itu dia mengikat rambutnya sebatas leher, hingga sebagian depan sering menjuntai diantara daun telinganya ketika menunduk.

Dia jarang menyadari. Bahwa dia sering menjadi sudut perhatian orang. Barangkali dia tak perduli. Pepatah lama mengatakan. Kau tak membutuhkan seisi dunia. Kau hanya membutuhkan semangkuk nasi dan segelas susu untuk dapat melanjutkan kehidupan.

Gerak matanya efisien. Namun terlihat cermat. Penampilannya klasik, berusaha tidak menarik perhatian. Dia agak terlihat kurus setelah sedikit sakit bulan ini. Matanya tertancap pada tumpukan buku dengan label NEW. Matanya mentok pada sepotong buku yang berusaha menyita perhatiannya…Tangannya terulur…

***

“Robekin” bisiknya.

“Mau beli?”

Ri mencibir.

Dia, lelaki itu, amat santai. Sore itu dia memakai jins biru rada cutbrai. Kaos hijau lumut bermotif garis yang nyaris tak terlihat. Tangannya menekuk-nekuk sedikit novel itu. Begitu ada bagian pinggirnya yang sobek dengan tangkas tangannya menarik ujung sobekan itu. Begitu saja. Tak susah kok merobek plastik buku.

“Nih”

Dia kembali pada buku komputer yang dibacanya. Dia sedang melatih daya ingatnya. Dia belajar itu dari Ri. Baginya Ri adalah gadis langka. Hafalannya bagus. Dia mampu mengingat apa yang pernah dibacanya satu dua kali saja.

“Mau cepet hafal?” Tanya Ri pernah. Dia mengangguk ketika itu. “Pertama jangan sering bohong. Kedua mata jangan sering jelalatan. Ketiga jangan sering mikir yang jorok. Keempat belajarlah mengacuhkan suara…” Lamunannya terputus.

“Eh ini kamu yang beli, ya?” Ujar Ri, menyerahkan novel itu kembali padanya. “Bagus kok. Nggak nyesel deh”

Lho?

“Ntar kalo kamu selesai ta’ pinjam”

Apa-apaan ini bocah. Dia yang mau baca, gue yang disuruh beli batinnya. Matanya beralih pada novel ditangannya. Mengamati sejenak. Ilustrasinya aja nggak elit gini… ini sih novel kacangan. Apalagi yang penerbitnya yang biasa nerbitin chiklit, pikirnya. Tapi eh…tunggu dulu. Tangannya membalik novel di tangannya. Matanya membaca sekilas. Sinopsisnya menarik. Apalagi yang ngasih komentar punya kredibilitas oke. Muncul juga suatu rasa penasaran dibenaknya. Tak terasa matanya sudah menyusur halaman demi halaman.

Barangkali sekitar lima menit novel setebal 330 halaman itu dia bolak-balik halamannya. Yak novel ini layak dimasukin keranjang samp…eh keranjang belanja. Ini novel bagus, Ri. Dia menoleh ke sampingnya. Celingukan sejenak. Kemana larinya yah, Elvi Mari…

In The Miso Soup

Kenji tak pernah tau alasan lain mengapa ia mau saja menjadi guide Frank. Tidak, selain ia membutuhkan uang. Memperbanyak tabungannya untuk mewujudkan cita-citanya : pergi ke Amerika. Dia punya mimpi di sana. Dan dia ingin itu segera terjadi. Maka dia harus merelakan tiga malam akhir tahunnya untuk menemani Frank, bule amerika yang menyewa jasanya menjadi pemandu menyusuri kehidupan dunia malam Tokyo.

Dia telah melewati ratusan malam dalam pekerjaannya. Namun tidak pernah menemukan pria seperti Frank.

Sejak pertama menatap sorot mata Frank dia sudah merasakan. Frank bukanlah sebagaimana turis asing yang biasa dihadapinya. Frank pria misterius dengan banyak keganjilan. Frank tidak seperti sosok yang digambarkannya lewat telepon : berkulit putih, gendut, mirip Ed Harris. Frank adalah pria aneh dengan kulit seperti buatan pabrik, atau kulit orang yang mengalami luka bakar. Meski mengaku usianya 35 tahun. Tak ada kerutan sama sekali di wajah Frank. Pipi Frank seperti silikon yang dipakai untuk menyelam. Dingin. Wajah Frank dapat berumur berapa saja : duapuluhan, tiga puluh limaan, empat puluhan, lima puluh tahunan.

Kenji tak pernah tau siapa Frank. Menginap di hotel mana dia. Warga negara mana dia. Yang Kenji yakini pasti nama kliennya itu bukan Frank. Kenji tau pada tiap ucapan Frank tentang identitas dan masa lalunya adalah kebohongan. Meski dalam suatu deskripsi tertentu Kenji meragukan kesimpulannya sendiri. Tapi dia berpendirian. Dia tak boleh mempercayai Frank. Tingkah laku Frank yang aneh dan menakutkan—amat berbeda diantara klien-klien yang pernah dipandunya—membuat Kenji menjadi paranoid. Ditambah lagi kemampuan Frank menghipnotis orang. Barangkali Frank adalah orang yang memotong-motong gadis pelacur yang mayatnya tampil di tivi itu…

Menurut Frank tingkah lakunya yang ganjil karena dia pernah kehilangan otak depannya. Pada usia sebelas tahun Fank mengalami kecelakaan. Kepalanya pecah. Kemasukan kaca hingga dan dokter harus membuang sebagian otak depannya.

“…kadang-kadang tubuhku tak bisa digerakkan seperti tadi itu. Kalau bicara pun, kadang-kadang juga tak jelas. Kadang-kadang pembicaraanku meloncat-loncat” Jelas Frank.

Haruskah Kenji mempercayai ucapan Frank. Mungkinkah itu yang menyebabkan keterangan Fank berubah-ubah, tidak konsisten. Seperti orang yang sering menderita penyakit bohong.

Frank mengambil tangan Kenji dan menempelkan ke lehernya. “dinginkan?” tanya Frank. Memang sungguh-sungguh terasa dingin. Kedengarannya seperti film-film science fiction. Namun bukan berarti dia harus mempercayai cerita Frank bukan. Walau mulai ragu pada kesimpulannya sendiri. Itu tak begitu saja menghapus kecurigaannya pada Frank.

Postur Frank pendek. 162 centi. Sedikit lebih pendek darinya. Tapi tubuh Frank bagaikan terbuat dari logam. Keras dan dingin. Tenaganya luar biasa. Dia bagaikan monster atau semacam robot. Pokoknya Frank mengerikan…

Yak betul!

Ini adalah novel In The Miso Soup (ITMS) karya Ryu Murakami yang saya beli ketika pulang nonton bareng Ri minggu kemarin.

Novel ini berkisah tentang seorang pemuda jepang bernama Kenji, freelance guide yang melewati tiga malamnya yang mencekam ketika memandu Frank, seorang turis Amerika bertubuh tambun dalam menjelajahi kehidupan malam Tokyo

Novel ini penuh ketegangan dan teror mental.

Jika dicarikan sandingannya mungkin Messiah-nya Boris Starling barangkali yah?

Novel ini alurnya runtut dan kuat. Serta mencekam seperti death note. Tempo yang menanjak dengan cepat lalu menukik mengejutkan kemudian berjalan dalam perhitungan birama yang cantik hingga akhir cerita.

Pada beberapa bagian cerita sulit dihentikan, hanya memiliki beberapa jeda. Bahkan mendekati bagian pertengahan pergantian bab bukan berarti membuat suatu jeda, namun sekedar berupaya membantu pembaca menarik nafas. Novel ini menjadi amat hidup dan merasuki pikiran pembacanya karena Ryu menempatkan Kenji sang tokoh utama pada sudut pandang orang pertama (aku). Sehingga pembaca seolah menyaksikan sendiri apa yang Kenji alami.

Membandingkan ITMS dengan Messiah-nya Boris Starling. Apa kelebihannya ya? Barangkali novel ini lebih ringkas. Tanpa prolog panjang-panjang menghujam ke sasaran tanpa basa-basi. Sementara membaca Messiah kita bisa sambil ngopi-ngopi atau makan kue.

Begitu?

“Tentu aja, Rang, dari tebelnya aja juga udah ketahuan. Messiah 640 halaman, sementara ITMS hanya 320” Cetus Ri.

Maksud saya—apa ya? Bagaimana menjelaskannya—novel ini menitikberatkan pada teror psikologis, sementara Boris Starling lebih menitikberatkan pada teka-teki. Jadi tentu dia dapat bermain-main pada banyak halaman. Sedangkan novel yang dibangun dengan teror tidak bisa seenaknya demikian. Sebab harus memperhitungkan tempo untuk dapat mempertahankan ketegangan. Begitulah kira-kira penjelasan logisnya.

Ryu Murakami, pengarang novel ini bagi saya betul-betul luar biasa. Dia dapat menumpahkan naluri gelap manusia yang terpendam, yang selama ini terbungkus dalam angan-angan menjadi kenyataan. Mendeskripsikan metamorfosa kondisi psikologi yang rumit dipahami akibat penyakit sosial secara mendetail dan meyakinkan. Ryu bagaikan seorang pakar kejiwaan yang dapat menangkap penyimpangan prilaku psikologi seseorang akibat efek gelap kelacuran sosial. Kegagalan tranformasi jiwa untuk mencapai kondisi normal membawa manusia kembali menjadi purba. Bertindak, dan menilai melalui naluri dan ketakutan. Suatu sisi gelap yang menakutkan.

Sulit untuk mengingat narasi mana yang dominan. Karena nyaris semua narasi dibangun sama kuatnya. Begitu juga dialog. Dialog tokoh dibuat sedemikian rupa hingga sepertinya tak ada satu karakter pun yang bicara sekedar mengisi ruang dalam cerita. Dialog setiap tokoh adalah sesuatu yang memang seharusnya dilakukan tokoh itu.

Namun untuk sekedar melihat kepiawaian Ryu dalam membangun suasana teror lewat dialog Frank dengan Kenji saya petikan saja dialog ini :

“Malam ini kau kelihatan gembira sekali. Tidurmu nyenyak kemarin malam?”

Frank menggeleng, “Aku hanya tidur satu jam saja.”

“Satu jam saja?”

“Tapi itu tidak masalah untukku. Kalau sel-sel di otakku sedang tumbuh, pada dasarnya aku tidak banyak tidur. Kau tahu tidak? Kalau tidak sedang stress kita tak perlu tidur. Tidur itu bukan untuk tubuh kita. Tapi, untuk mengistirahatkan otak kita. Kalau tubuh kita yang butuh istirahat, cukup berbaring saja. Tapi, otak itu stress dan orang tidak bisa tidur dalam jangka waktu yang lama, seseorang bisa melakukan sesuatu yang kejam dan tidak bisa kau bayangkan sebelumnya.”

Frank mengatakan itu seperti layaknya dialog biasa. Tidak ada deskripsi dari Ryu tentang bagaimana mimik Frank ketika mengatakan pendapatnya tentang tidur. Namun isi dialog itu kita tau, itu meneror. Semacam ancaman terselubung. Saya rasa Ryu juga tidak memberi deskripsi bagaimana mimik Frank mengucapkan hal itu untuk menguatkan karakter Frank. Dan membangun ketakutan Kenji dengan menebak-nebak apa maksud kalimat Frank lewat pikiran pembaca.

Bagi saya sulit mengatakan (kecuali anda membacanya sendiri) bahwa diperlukan pemahaman psikologis yang kuat dan wawasan yang luas untuk dapat menyusun novel seperti ini. Tapi Ryu membuat hal yang sulit itu mengalir begitu lancar. Ryu berhasil menciptakan suasana suram dan kelam begitu kental dalam segala hal. Dari lingkungan. Sikap sinis dan pesimis karakter. Kondisi psikologis tokoh-tokohnya. Sikap sosial masyarakat dan etos kerja mereka.

Kekurangan-kekurangan orang jepang telanjang di depan mata ketika kita membaca novel ini. Ternyata masyarakat kita tak jauh beda dengan mereka. Persoalan yang kita hadapi pun adalah persoalan global yang sama, dekadensi moral. Namun hal itu tak membuat dialog novel ini menjadi kaku. Diantara suasana mencekam itu dia juga menyelipkan humor-humor yang menggelitik.

Mari kita simak pendapat Kenji tentang problem yang dihadapi remaja jepang ketika memikirkan problem gadis seumuran Jun(pacarnya):

…hidup yang lurus-lurus saja itu bukan perkara gampang. Para orang tua, guru, negara mengajarkan kita untuk hidup seperti budak. Tapi, tak ada seorang pun yang mengajarkan kita bagaimana hidup dengan mudah dan biasa-biasa saja.

Membaca novel ini seperti mengembara menjelajahi dunia psikologis tokohnya. Ryu amat piawai menggiring mental pembaca menuju titik dimana imajinasi melampaui kenyataan. Hingga kita berpikir entah di kantor, entah di kos-kosan, entah di terminal, atau disuatu tempat, bisa saja saat kita bertemu dengan manusia seperti Frank. Sungguh mengerikan bukan?

Two Thumbs Up for Ryu. Bintang empat buat novel In The Miso Soup.

Buruan gih baca..

pertama kali saya posting di intranet DJP

goddam gay

•December 20, 2007 • 1 Comment

Suatu ketika, saat pulang nganterin Ri dari suatu acara, saya nggak langsung pulang. Berkeliling-keliling motoran. Dan heh, nggak tau kenapa. Tiba-tiba saya sudah berada di lobi sebuah bioskop. Saya duduk bersandar setengah rebahan. Mata kerjap-kerjap—emangnya boneka baby. Iyah saya ini mau nonton, tapi masih ragu ama filmnya. Karena rada mengantuk maka saya tidur-tiduran. Merem-melek-melek-merem.

“Mas”

“Mas”

Awalnya saya tak menyahut. Saya pikir sapaan itu bukan untuk saya. Tapi setelah beberapa kali. Saya merasa barangkali untuk saya. Maka saya membuka mata.

Seorang lelaki. Tinggi menjulang. Barangkali sekitar seratus tujuhpuluh delapan. Posturnya atletis dengan kaos dan jeans serta bertopi ‘bulls’. Meski penampilannya sederhana namun harus saya akui. Dia lumayan tampan. Kulitnya bersih, potongan rambut pendek, garis cambangnya yang panjang tercukur rapi. Siapa? Mo ngapain? Mau ngapain ini orang negur saya? Saya nggak kenal sama sekali ama orang ini.

“Mas. Mo nonton?”

Entah mengapa saya ngangguk.

“Kebetulan”

Apanya yang kebetulan? Kening saya barangkali berkerut tiga ketika itu.

“Saya punya tiket dua nih Mas. Tadinya sih saya mo nonton bareng temen saya. Tapi karena dia nggak bisa dateng….”

“Maksudnya?” Potong saya rada curiga.

“Maksudnya daripada tiket ini nganggur…yeah buat Mas aja…”

Sempat saya memandangi orang itu agak lama. “kenapa ke saya? Coba tawarin ke yang lain aja” Tukas saya agak ketus. Entah kenapa saya merasa nggak nyaman dengan tatapannya. Bukan takut. Tapi aneh. Lagipula saya lagi malas buat ngobrol. Ama cowok lagi walah… kalo cewek cakep sih mau hehehe…

“yah barangkali karena saya sregnya ama Mas” suaranya terdengar lagi.

Sempat saya ragu. Beberapa kali saya coba menangkap matanya. Saya tak menangkap ekspresi aneh disana. Okelah, pikir saya. Toh hanya nonton. Kenapa sih saya terlalu curigaan ama orang. Don’t talk to stranger! Kata sebuah film yang pernah saya tonton ketika saya kecil. Yang seringn kebawa-bawa hingga kini. Hei! Wong saya ini dah gede. Mo ngapain dia? Kalo macem-macem—hajar aja. Meski dia lebih besar dari saya. Saya nggak takut. Lha ini tempat rame…

“Ok” Kata saya. “Tapi saya lagi males ngomong” Lanjut saya menegaskan—buset galak banget.

“Nggak masalah”

Saya pun nerima tiket bioskop yang disodorkannya.

Nggak tau kemana setelah ngasih tiket itu, dia kembali menghilang. Sempat juga sih saya celingukan. Ah perduli lah…

Sampai studio dibuka. Dan orang-orang diancam masuk. Saya nggak ngeliat batang hidung si Mr. Topi. Malah enak pikir saya lega. Saya pun mencari nomor kursi. Sialan dipojok! Halah gratis kok mau enak? Saya pun melanjutkan langkah. Tapi alangkah terkejutnya saya begitu melihat ke arah kursi saya. Si Mr. Topi udah ada disitu. Kapan masuknya? Kayak adegan film horor…

Si Topi tersenyum.

Barangkali buat mata cewek senyumnya itu manis. Tapi bagi saya nggak. Entahlah, meski dilanda perasaan aneh saya terus menuju kursi saya—yang pasti ada di sebelahnya. “Kapan masuk?” tanya saya. “Barusan” dia menjawab. Saya pingin tanya ‘kok saya nggak liat’ Tapi urung karena saya liat tangannya menawarkan sesuatu. Popcorn dan softdrink.

Buset, pikir saya. Nonton ama Elvi Mari aja saya nggak pernah kepikiran buat beli jajanan. Kalo laper paling Ri atau saya yang ngajakin makan di luar. Tapi belom pernah ada sejarahnya kami ngemil sambil nonton.

“Nggak. Makasih” sahut saya sambil menggeleng, kali ini suara saya agak melunak. Nggak enak juga terus-terusan bersikap ketus dan curiga ama orang yang terus-menerus bersikap ramah. Terus terang, walaupun sikap saya melunak namun itu tak menghapus kewaspadaan saya. Nawarin makanan, minuman ditempat begini. Hii jangan-jangan tuh minuman udah disuntik lagi. Saya keinget berita-berita tentang korban pembiusan dengan modus menawarkan minuman. ‘Hei Bung, Lo pikir gue goblok?!’ Batin saya.

Nggak lama film mulai.

Adalah kebiasaan saya nonton film dengan serius. Walo belajar saya nggak serius. Tapi nonton film saya serius. Walo ngerjain ujian saya nggak serius. Tapi nonton film saya serius. Walao makan nasi saya tidak serius. Tapi nonton film saya serius. Walau halah…

Pada suatu ketika, entah dimenit keberapa saya menyadari kembali keberadaan diri saya kembali. Saya sedang duduk didalam gedung bioskop dengan kepala terkulai miring dan mata melotot ke depan. Lalu, heh, saya menyadari ada yang keras dipinggiran bangku. Saya menoleh.

Kepala si Mr Topi.

Sandarannya miring ke arah kepala saya. Menyadari hal ini saya menarik kepala saya. Duduk saya tegap seperti sikap personil waffen SS. Atau sikap seorang lelaki perkasa, yang betul-betul maskulin. Beberapa saat saya coba mempertahankan posisi. Andaikan jatuh saya ingin kepala saya terkulai ke arah yang berlawanan dengan si Mr. Topi.

“Dingin ya, Mas?”

Saya tak menyahut. Dari ekor mata saya, saya tangkap dia sedang menggosok-gosokan tangannya. ‘Salah lu sendiri! Nonton ditempat begini cuma pake kaos begitu!’ Sahut saya dalam hati tapi. Beberapa saat kemudian saya kembali hanyut oleh jalan film. Ketika film sedang dalam keadaan seru saya sempat terhenyak.

Ada tangan terkulai dilutut saya. Nah lho!

Sempat saya melongo beberapa saat. Lalu mata saya beralih pada sang pemilik. Matanya melotot ke depan. Saya tak melihat ada unsur kesengajaan disitu. Maka dengan cara tak menarik perhatian saya singkirkan tangan itu dari lutut saya.

Saya pun kembali asik terlena dalam adegan penyiksaan—saat itu saya memang sedang nonton film thriller. Saat saya hendak bergerak karena merasa cukup pegal saya sempat terhenyak.

Astaga naga.

Ada tangan sudah melingkar dibahu saya. Ada tangan melingkar di bahu saya sodara-sodara! Sialan! Motherfucker! Orang ini gay. Saya menyingkirkan tangannya dengan amat kasar.

“Maaf, Mas. Dingin” ujarnya tanpa rasa bersalah.

“Dasar gay sialan lu!” Saya geram. Bangkit lalu segera keluar. Beberapa penonton menoleh pada saya. Bajingan. Damn-gay!

Ri terpingkal-pingkal dengan laporan saya ditelpon. “Jangan ketawa kamu!” bentak saya gusar. Tapi suara Ri malah makin terpingkal-pingkal. “Habis potong rambut bukannya didatengin cewek. Malah disamperin gay! Nasib-nasib…”

Heran. Nggak habis pikir saya. Kenapa gay akhir-akhir ini makin banyak aja berkeliaran.

ini skedar tes aja

•September 2, 2002 • Leave a Comment

halo nama saya karang. gue sekedar iseng aja nyoba ngeblog. semoga gue ga goblok

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.